Setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu dari ibunya. Terdengar
mudah dilakukan, apalagi dengan rasa sayang dan kebahagiaan ibu yang baru
melahirkan sang bayi.
Bertepatan dengan Pekan Air Susu Ibu (ASI) Sedunia 1-7
Agustus - data pemantauan status gizi di Indonesia pada 2017 menunjukkan
cakupan pemberian ASI secara eksklusif selama 6 bulan pertama oleh ibu kepada
bayinya masih sangat rendah yakni 35,7%. Artinya ada sekitar 65% bayi yang
tidak mendapatkan ASI secara eksklusif selama 6 bulan pertama lahir. Angka ini
masih jauh dari target cakupan ASI eksklusif pada 2019 yang ditetapkan oleh WHO
maupun Kementerian Kesehatan yaitu 50%.
Kampanye tentang pentingnya pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan
telah dikumandangkan lama bahkan sejak 1990. Pada 2005, WHO menganjurkan
pemberian ASI tetap dilakukan sampai bayi berusia 2 tahun. Cakupan
pemberian ASI eksklusif yang cenderung fluktuatif atau mengalami kenaikan dan
penurunan mendorong banyak pihak untuk mengkaji fenomena ini.
Bukan hanya keputusan ibu
Pemberian ASI eksklusif berarti hanya menjadikan ASI sebagai
makanan bayi hingga usia 6 bulan, tanpa tambahan apapun, termasuk air minum dan
susu formula. Namun dalam keadaan mendesak, diperbolehkan memberi vitamin,
mineral, dan obat-obatan kepada bayi. Selain itu, terdapat kondisi medis tertentu,
baik pada ibu maupun bayi, yang memperbolehkan pemberian susu formula untuk
memenuhi nutrisi bayi.
Sifat ASI yang kaya nutrisi dan mencegah bayi dari gizi buruk dan
stunting telah diketahui oleh sebagian besar ibu. Terutama yang bekerja sebagai
tenaga kesehatan. Selain memiliki pengetahuan yang baik, umumnya tenaga
kesehatan memiliki sikap yang positif terhadap ASI eksklusif. Namun, penelitian
di Kota Bandar Lampung pada 2017 menunjukkan bahwa tidak semua tenaga
kesehatan, hanya 57,4%, memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya,
Pemberian ASI eksklusif tidak hanya mengandalkan pengetahuan dan
sikap positif. Ketersediaan fasilitas dan waktu untuk memberikan ASI pada bayi
menjadi hal lain yang perlu dipertimbangkan. Besarnya campur tangan keluarga dalam
perawatan bayi juga mempengaruhi ibu dalam praktik pemberian ASI eksklusif ini.
Bidan sebagai “distributor” susu formula
Menurut data riset kesehatan dasar pada 2013, sebagian besar
penolong persalinan ibu adalah bidan. Bidan sebagai tenaga kesehatan mempunyai
andil besar dalam memulai pemberian ASI eksklusif, yang disebut dengan inisiasi
menyusui dini (IMD). Di luar keadaan medis yang tidak memungkinkan, bayi harus
segera diberikan kepada ibunya untuk segera disusui.
Selama 3 hari pertama, ASI mengandung kolostrum yang mampu
meningkatkan kekebalan tubuh bayi dari penyakit infeksi. Cairan pertama
berwarna kuning yang keluar dari payudara ibu sepenuhnya mengandung kolostrum.
Bidan mempunyai kesempatan besar dalam memotivasi ibu untuk
memberi ASI ekslusif, menginformasikan pentingnya ASI sebagai satu-satunya
makanan yang cocok dicerna bayi serta tips memberikan ASI eksklusif bagi ibu
pekerja.
Faktanya, penelitian yang dilakukan di salah satu Kecamatan di
Kota Medan pada 2015 menunjukkan 41,7% bidan menawarkan susu formula secara
langsung kepada ibu pasca melahirkan.
Sebagai orang yang dipercaya, dihormati, dan memberikan pelayanan
kesehatan secara langsung di masyarakat, langkah bidan menawarkan susu formula
itu mudah diterima oleh ibu yang baru melahirkan. Dalam konteks ini, bidan juga
menjadi “agen distribusi” susu formula.
Padahal, susu formula tidak sepenuhnya dapat dicerna oleh usus
bayi yang masih sensitif. Pemberian susu formula tidak menambah nutrisi pada
bayi karena kegagalan penyerapan oleh usus bayi.
Mitos air susu tak cukup
Alasan utama ibu tidak konsisten memberikan ASI adalah ketakutan
ibu akan kecukupan ASI yang bisa diproduksi. Secara biologis, selama ibu
mengonsumsi makanan bergizi, dan selama terdapat rangsangan dari mulut bayi,
maka ASI secara otomatis akan terus diproduksi. Namun ada pengaruh psikologis
ibu pada produksi ASI sehingga ibu menyusui diupayakan untuk selalu bahagia dan
dihindarkan dari emosi negatif.
Di sinilah dibutuhkan peran suami untuk mendukung istrinya
yang sedang menyusui. Suami berperan memberi dukungan secara moril dan psikis
selama ibu menyusui. Hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif ini
telah dibuktikan secara ilmiah oleh beberapa penelitian.
Alasan berbeda terjadi pada ibu menyusui yang bekerja. Sebagian
besar ibu menyusui berada pada usia produktif sehingga banyak ibu menyusui yang
bekerja. Waktu bekerja dan tekanan dalam pekerjaan menjadi faktor penghambat
ibu yang bekerja untuk memberikan ASI eksklusif.
Tantangan selanjutnya berasal dari kurangnya pengetahuan keluarga
tentang ASI ekslusif. Budaya pemberian makanan tambahan lebih dini biasanya
merupakan anjuran dari orang tua atau mertua. Anjuran tersebut terkadang tidak
dapat ditolak karena beberapa alasan. Pertama karena kurangnya pengetahuan ibu tentang
pencernaan bayi yang belum dapat menerima makanan tambahan sebelum usia 6
bulan. Kedua, karena rasa hormat kepada orang yang telah menjadi ibu terlebih
dahulu sehingga meski ibu memiliki pengetahuan tapi tidak mampu menolak.
Regulasi jadi macan kertas?
Pentingnya pemberian ASI ekslusif telah mencuri perhatian
pemerintah dan dituangkan dalam beberapa regulasi. Di awali dengan Keputusan
Menteri Kesehatan pada 2004 tentang pemberian ASI secara ekslusif kepada bayi
di Indonesia. Lima tahun berikutnya Undang-Undang Kesehatan secara spesifik
mengharuskan berbagai pihak untuk mendukung ibu dalam memberikan ASI baik
melalui penyediaan waktu maupun fasilitas.
Melalui Pasal 200, UU Kesehatan juga mengatur sanksi pidana
penjara setahun dan denda Rp100 juta bagi pihak-pihak - selain ibu - yang
sengaja menghalangi pemberian ASI dari ibu kepada bayinya. Namun hingga saat
ini belum ada penerapan sanksi tersebut karena, di antaranya, kurangnya
pengetahuan masyarakat terkait peraturan tersebut.
Regulasi selanjutnya, Peraturan Pemerintah RI Nomor 33 Tahun 2012
tentang Pemberian ASI Eksklusif. Peraturan ini menguraikan secara spesifik
bahwa pemberian ASI pada bayi harus diberikan secara eksklusif.
Beberapa anjuran dalam regulasi tersebut telah dituangkan dalam
bentuk munculnya fasilitas ruang laktasi dan kelompok pendukung ASI eksklusif
di masyarakat. Saat ini, ruang laktasi dapat ditemukan di beberapa fasilitas
umum, kantor pemerintah, maupun perusahaan swasta. Hal ini memberikan privasi
bagi ibu yang ingin menyusui maupun memompa ASI di tempat bekerja.
Edukasi, edukasi, dan edukasi
Kandungan ASI yang kaya nutrisi tidak dapat digantikan oleh bahan
makanan apapun. Karena itu, perlu penyebaran informasi tentang manfaat ASI
eksklusif secara terus menerus dan berulang kepada masyarakat, tidak hanya
kepada ibu, baik melalui media massa, tokoh agama maupun masyarakat.
Sebab, sebelum pelarangan iklan susu formula untuk bayi di semua media massa
mulai Maret 2012, perusahaan susu formula melalui layar kaca telah berhasil
menanamkan pengaruh kuat seolah-olah susu formula lebih berkualitas ketimbang
ASI. Sungguh informasi yang keliru.
Internet dan media sosial seharusnya dapat dimanfaatkan secara
maksimal untuk meningkatkan pengetahuan tentang ASI. Selain penyebaran
informasi searah, media sosial juga dapat menjadi wadah bagi ibu untuk
membentuk grup ibu menyusui yang saling mendukung satu sama lain. Melalui
internet pula, ibu dapat membeli alat pompa ASI secara online tanpa perlu
keluar rumah. Alat pompa ASI akan sangat bermanfaat bagi ibu menyusui yang
bekerja atau bagi ibu yang memiliki produksi ASI cukup banyak.
Kegiatan pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK) dan pos pelayanan
terpadu (Posyandu) dapat menjadi peluang untuk meningkatkan pengetahuan tentang
ASI ekslusif dan mendukung ibu menyusui untuk memberikan ASI secara ekslusif.
Ibu sebagai tokoh penting dalam mencukupi kebutuhan gizi bayi
tidak seharusnya berjalan sendirian. Peran ibu yang sangat penting dalam
kesehatan bayi dan kesehatannya sendiri seharusnya mendapat dukungan dari
berbagai pihak. Baik berupa asupan informasi, dukungan moril, maupun fasilitas.
Bukankah setiap orang lahir dari seorang ibu?
Marya Yenita Sitohang, Peneliti Bidang Keluarga dan Kesehatan
Pusat Penelitian Kependudukan, Indonesian Institute of Sciences (LIPI)
Sumber : vemale.com
5 Manfaat Mengagumkan ASI Buat Kesehatan Anak Hingga Ia Dewasa
By PPKS Bahtera - Agustus 21, 2018
Melansir dari laman boldsky.com, ASI tidak
hanya mengatasi masalah lapar dan haus pada buah hati. Lebih jauh, ASI memiliki
segudang manfaat buat kesehatan fisik maupun psikis anak. Manfaat ini bahkan
bisa dirasakan anak hingga ia tumbuh dewasa. Apa manfaat ASI?
Mencegah Obesitas
Bayi yang mendapat asupan ASI cukup dari ibunya akan lebih terhindar dari risiko obesitas saat ia dewasa. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa anak yang minum ASI cukup saat bayi, saat dewasa ia bisa mengontrol pola makan dengan lebih baik, mengontrol porsi makan dengan lebih tepat hingga membuatnya terhindar dari risiko obesitas.
Kesehatan Gigi Terjaga
Anak-anak yang terbiasa mengonsumsi ASI, ia akan lebih mungkin memiliki rahang dan otot-otot wajah yang kuat. Kemungkinan besar ia juga akan memiliki gigi kuat dan terjaga. Ini mengingat bahwa ASI juga tinggi kalsium.
Mencegah Obesitas
Bayi yang mendapat asupan ASI cukup dari ibunya akan lebih terhindar dari risiko obesitas saat ia dewasa. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa anak yang minum ASI cukup saat bayi, saat dewasa ia bisa mengontrol pola makan dengan lebih baik, mengontrol porsi makan dengan lebih tepat hingga membuatnya terhindar dari risiko obesitas.
Kesehatan Gigi Terjaga
Anak-anak yang terbiasa mengonsumsi ASI, ia akan lebih mungkin memiliki rahang dan otot-otot wajah yang kuat. Kemungkinan besar ia juga akan memiliki gigi kuat dan terjaga. Ini mengingat bahwa ASI juga tinggi kalsium.
Menurunkan Risiko Jantung
Studi menunjukkan bahwa bayi yang disusui bisa memiliki sistem metabolisme
kolesterol yang lebih baik. Karena inilah, para ahli percaya jika orang-orang
yang memiliki asupan ASI cukup dengan nutrisi yang baik saat mereka bayi,
mereka bisa terhindar dari risiko jantung atau penyakit berbahaya lainnya.
Memiliki Otak Cerdas
Anak-anak dengan asupan ASI cukup memiliki IQ tinggi atau otak cerdas dibandingkan
dengan mereka yang makan atau minum sesuatu yang lain. Saat dewasa, seseorang
yang mendapat asupan ASI cukup juga akan memiliki perilaku lebih baik, daya
ingat lebih tajam dan rasa simpati yang lebih baik.
Menurunkan Risiko Alergi
Penelitian menyebutkan bahwa anak-anak dengan asupan ASI cukup, mereka akan
lebih rendah mengalami risiko alergi atau pun asma. Dalam ASI terdapat zat-zat
yang bisa menangkal infeksi, bakteri maupun segala hal yang bisa menyebabkan
alergi.
Mom, itulah beberapa manfaat ASI bagi anak yang bisa mereka rasakan hingga
mereka dewasa. Mengingat akan pentingnya ASI buat kesehatan serta tumbuh
kembang anak, pastikan untuk memberikan asupan ASI yang cukup untuk buat hati
setidaknya sampai mereka berusia 2 tahun. Semoga informasi ini bermanfaat.
Sumber : vemale.com
Selamatkan Anak Dengan Pengasuhan, Bimbingan, Pendidikan, dan Pendampingan
By PPKS Bahtera - Agustus 02, 2018
Keseimbangan Kecerdasan
Anak adalah anugerah, anak adalah
harapan masa depan, dan anak adalah sebuah amanah, serta sebuah tanggung
jawab, sekaligus menjadi potret dari keberhasilan orang tua.
Dari beberapa pameo ini dapat
digambarkan bahwa memiliki anak adalah sebuah anugerah yang tak
ternilai, keberadaan anak dalam sebuah rumah tangga seharusnya dapat
menumbuhkan kehangatan, semangat dan kebahagaian, selain itu keberadaan
anak ini akan menumbuhkan harapan-harapan dimasa yang akan datang, yang
seharusnya menjadikan dorongan bagi orang tua untuk dapat meraih dan
mencapainya. Namun demikian ada yang perlu disadari bahwa anak adalah
amanah dari Allah Tuhan Yang Maha Esa, itu artinya bahwa anak adalah
titipan yang seharusnya dijaga, diayomi dan dilindungi agar
keberadaannya tetap utuh dan baik selamanya, dan kondisi ini tentu
membutuhkan sebuah tanggung jawab yang bukan sekedar main-main. Orang
tua mempunyai fungsi sebagai pengasuh, pembimbing dan pendidik anak.
Oleh sebab itu potret keberhasilan orang tua dalam mengemban amanah ini
dapat dilihat dari perkembangan dan pertumbuhan anaknya baik secara
fisik, mental dan spiritual yang tercakup dalam IQ, EQ dan SQ.
Setiap manusia seharusnya memiliki
keseimbangan dari tiga elemen ini. Karena Keseimbangan antara cerdas
itelegensi, cerdas emosi dan cerdas spiritual ini adalah dasar manusia
untuk memiliki kecerdasan yang hakiki. Dengan memiliki kecerdasan ini,
manusia akan memiliki kemampuan untuk memilih dan memilah segala hal
yang baik maupun yang buruk, yang pantas maupun tidak pantas dan yang
bermanfaat maupun yang tidak bermanfaat, baik itu bagi dirinya, bagi
orang lain maupun bagi lingkungannya. Kecerdasan ini akan membentuk
karakter dan akan tercermin pada tingkah dan perilakunya, bila
kecerdasan tersebut sudah melekat pada jiwa manusia, maka seterusnya
akan selalu terbawa di sepajang perjalanan hidupnya.
Untuk memiliki keseimbangan kecerdasan
itelegensi, emosi dan spiritial ini sebaiknya dimulai dari anak ketika
masih dalam usia dini, karena;
- Anak usia dini adalah anak yang masih polos, yang masih mudah dibentuk;
- Keseimbangan kecerdasan yang dilatihkan pada anak sejak usia dini akan menjadi kebiasaan mereka yang akan melekat dalam hidupnya;
- Penyerapan kemampuan untuk menyeimbangkan kecerdasan ini akan lebih sempurna bila dilakukan dalam waktu yang panjang dan berkelanjutan.
Bila diperhatikan dari pentingnya
melatih kecerdasan ini pada anak usia dini, maka jelas peran dan
tanggung jawab para orang tua menjadi faktor utama untuk pelaksanaan dan
keberhasilannya, dan keberhasilan yang maksimal tersebut dapat
diperoleh bila para orang tua memilki kemampuan, pengetahuan dan wawasan
tentang cara pengasuhan, membimbing dan mendidik anak usia dini.
Pengasuhan Dan Pengembangan Anak Usia Dini.
Anak usia dini adalah anak yang berusia 0
sampai 6 tahun. Pada Usia ini merupakan usia yang strategis untuk
meletakkan kerangka dasar bentuk dan pola kehidupan yang akan
menyertainya sepanjang perkembangan kehidupannya. Bentuk pola asuh,
bimbingan dan pendidikan yang diterimanya saat itu akan menjadi pijakan
dan tuntunan mereka dalam berlaku dan bersikap dalam kehidupan
selanjutnya dan pemeran utama dalam pembentukan ini adalah orang tua dan
keluarga dekatnya, karena kehidupan dan keberadaan anak pada usia dini
seperti ini hampir seratus persen masih berada di lingkungan orang tua
dan keluarga.
Dengan demikian maka kewajiban dan
tanggung jawab orang tua tentu bukan hanya mencarikan nafkah untuk
memenuhi kebutuhan anak saja tetapi harus lebih dilengkapi dengan
memberikan pengasuhan, bimbingan, pendidikan dan juga pendampingan yang
baik dan benar pada anak-anaknya.
Pengasuhan sendiri secara harafiah adalah serangkaian upaya orang tua atau keluarga kepada anak baik secara fisik, moral, kecerdasan dan juga kepribadian, sedangkan perkembangan anak adalah proses pematangan atau pemantapan dari kemampuan psikomotorik, intelektual, emosi dan spiritual seorang anak.
Pengasuhan sendiri secara harafiah adalah serangkaian upaya orang tua atau keluarga kepada anak baik secara fisik, moral, kecerdasan dan juga kepribadian, sedangkan perkembangan anak adalah proses pematangan atau pemantapan dari kemampuan psikomotorik, intelektual, emosi dan spiritual seorang anak.
Dalam Undang-Undang Perlindungan Anak
nomor 23 tahun 2002 pada pasal 6, juga mengatur tentang kewajiban dan
tanggung jawab orang tua terhadap anak, antara lain yaitu tentang :
- Mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak;
- Menumbuh kembangkan anak sesui dengan kemampuan, bakat dan minatnya;
- Mencegah terjadinya perkawinan pada usia dini.
Ini semua menunjukkan bahwa untuk
membentuk generasi cerdas secara total dan seimbang, pengasuhan,
bimbingan dan pendidikan serta pendampingan anak harus dimulai sejak
usia dini dan harus menjadi prioritas utama keluarga yang tidak boleh
ditinggalkan.
Bagi orang tua mengasuh, membimbing dan
mendidik anak sebetulnya bukan suatu hal yang baru, namun demikian
ternyata tidak semua pola asuh yang sudah dilakukan itu berhasil dengan
baik sesuai dengan harapan. Hal ini bisa terjadi karena beberapa faktor
diantaranya;
- Kurangnya pengetahuan dan wawasan orang tua tentang arti dan makna dari tumbuh kembang anak.
- Kurangnya informasi tentang bagaimana cara mengasuh dan mengembangkan anak yang baik dan benar.
- Cara dan Pola pandang orang tua tentang makna kesuksesan dalam hidup.
- Peran orang tua yang dipindahkan atau dibebankan pada orang lain yang notabene tidak ada hubungan keluarga (pengasuh/pembantu).
- Orang tua dan keluarga tidak dapat menjadi model dan contoh yang benar.
- Terlambat dalam memberikan bimbingan, pendidikan dan pendampingan pada anak (diberikan ketika anak sudah melewati masa usia dini atau ketika anak tertimpa kasus.
Beberapa faktor tersebut diatas hanya
beberapa penyebab dari anak yang berkembang kearah yang tidak
diharapkan, masih banyak faktor lain yang mempengaruhinya, oleh sebab
sudah menjadi kewajuban orang tua untuk memperhatikan perkembangan
anaknya dan segera melakukan koreksi diri apakah perannya sebagai orang
tua sudah dilakukan dengan baik dan benar.
Ada beberapa hal yang sebaiknya selalu
diingat dan menjadi catatan orang tua, antara lain yaitu ;
- Bahwa pembinaan tumbuh kembang anak itu merupakan proses panjang yang harus dilakukan sejak anak usia dini ketika masih dalam kandungan;
- Bahwa lingkungan pertama yang dikenal anak adalah orang tua dan keluarga, oleh sebab itu orang tua punya peran penting pada petumbuhan dan perkembangan balita;
- Sebagai kunci utama dalam pertumbuhan dan perkembangan balita, orang tua harus mampu memberikan pengasuhan, bimbingan dan didikan dan pendampingan yang tepat terhadap balitanya.
Sumber : https://www.bkkbn.go.id/
Penekanan
mengapa mengapa kita harus belajar dalam mengawal anak-anak di jaman now
disampaikan oleh Mbak Di (Nyi Mas Diane WS., Psi) di Talkshow
Pendidikan Orang Tua Hebat – Mendorong Sekolah Ramah Anak, Solusi Cerdas
Optimalkan Potensi Anak di Era Milenial yang berlangsung 1 Juli lalu.
Perbedaan masa di antar kita dan anak-anak. Juga di antara kita dengan orang
tua kita, terlebih di antara orang tua kita dengan cucunya begitu nyata.
Masa-masa tiga generasi kita punya karakter yang berbeda jauh. Tidak persis
antar generasi kita dan anak kita misalnya, bahkan dalam berbeda usia sepuluh
tahun saja sudah berbeda karakternya. Hati-hati jika berpotensi menemukan dampak buruk gadget dan pornografi bagi anak.
Generasi
Baby Boomers (lahir sebelum tahun 1969), generasi X (1969 – 1980), generasi
milenial atau generasi Y (lahir tahun 1981 -1994 ), generasi Z (lahir tahun
1995 – 2010), dan generasi Alpha (lahir tahun 2010 hingga saat ini). Dilihat
dari tahun-tahun tersebut – dari slide presentasi Mbak Di, saya masuk
generasi X sementara ketiga anak saya adalah produk generasi Z.
Perkembangan
internet pada masa saya tumbuh besar dulu sangatlah lambat. Saya baru mengenal
internet ketika lulus kuliah (tahun 1997). Saya masih melihat komputer yang
dioperasikan dengan sistem DOS saja. Saya masih melihat komputer Pentium 1,
bahkan generasi di bawahnya. Saya juga masih menggunakan disket berukuran 5 ¼
inci sebagai tempat penyimpanan data dan masih menggunakan search engine Astalavista.
Saya mendengar orang-orang menggunakan mIRC meskipun demikian saya tidak
tertarik menggunakannya. Handphone pertama dimiliki suami saya pada
tahun 2001, waktu itu SIM card masih mahal sekali. Selain itu, saya dan
teman-teman saya sekarang menjadi pengguna email dan WA, juga media sosial
seperti Facebook dan Instagram. Dari slide yang ditunjukkan Mbak Di,
generasi X berciri ingin menunjukkan kemampuan diri, berorientasi kesejahteraan,
dan memenuhi kebutuhan anak (secara positif).
Sementara
itu, generasi Z memiliki ciri-ciri perpindahan (khususnya teknologi) antara
satu hal dan hal lainnya sangat cepat. Contohnya saja, kita belum terbiasa
dengan Revolusi Industri jilid 3 tiba-tiba saja jilid 4-nya sudah di depan
mata. Selain itu, generasi ini mudah terganggu fokusnya, multi tasker, berjiwa
pengusaha, memiliki jaringan sosial tinggi, dan mengglobal.
Era digital
saat ini begitu memesona dan memunculkan banyak perkembangan yang memberi
manfaat. Namun selain itu, dampak negatifnya tak kalah besar dari dampak
positifnya jika kita tak memerhatikan atau memusingkannya. Gangguan kesehatan
dan gangguan psikologi adalah salah satunya.
Gangguan
psikologi contohnya NOMOPHOBIA (no-mobile-phone phobia), yaitu kecemasan
bahkan ketakutan berlebihan jika hidup tanpa HP. Mengenai gangguan kesehatan –
hal ini bisa muncul melalui radiasi antena HP. Mbak Di memperlihatkan sebuah
video yang memperlihatkan presentasi dari Dr. Devra Davis –
seorang epidemiologist mengenai akibat yang ditimbulkan dari radiasi
ini. Saya kasih bocoran, ya: bisa menyebabkan gangguan di syaraf wajah dan otak
akibat radiasi tersebut, stroke, gangguan di organ reproduksi laki-laki,
hingga kanker payudara! Terbayangkankah jika anak-anak kita yang mengalaminya
sementara kita saja yang orang dewasa ini bisa dengan mudah terkena
dampak-dampak negatif itu?
“Siapkan budget sebesar 10 kali
lipat dari harga gawai,” tukas Mbak Di –
jika kita membiasakan anak dengan gadget. Perhitungkan biaya dokter-dokternya, semisal dokter ahli syaraf, dokter
onkologi, dokter ahli penyakit dalam, dan sebagainya. Bukan dampak penggunaan satu – dua –
tiga kali penggunaannya yang merugikan, melainkan AKUMULASI penggunaannya selama berhari-hari, berbulan-bulan,
bahkan bertahun-tahun!
Nah,
kira-kira, apa hal yang bisa dilakukan untuk meminimalisasi dampak-dampak buruk
itu? Dari yang disampaikan oleh Dr. Devra Davis, kita dianjurkan untuk set gadget ke mode AIR PLANE (yang bergambar pesawat terbang). Hal ini dilakukan agar
antena tidak mengeluarkan radiasinya karena sibuk mencari sinyal.
Yang
perlu disikapi orang tua pula adalah pada Revolusi Industri jilid, banyak
tenaga kerja manusia akan digantikan dengan robot. Revolusi Digital ubah perilaku bangsa. Manfaat perkembangan teknologi
adalah memudahkan kita. Anak tetap harus dilindungi. “Tapi jangan halangi potensi manfaat
agar tak gagal manfaat,” ucap Mbak Di.
Dampak pornografi bagi anak:
- Anak mudah terangsang sehingga sering masturbasi/onani, bahkan berzina.
- Mengalami kerusakan otak sehingga anak tidak memiliki rasa bersalah dan rasa malu.
- Melakukan penyimpangan dan kejahatan seksual.
Mbak
Di juga memperlihatkan kepada kami video (saya duga dari tangkapan CCTV) yang
menunjukkan anak usia sekolah dasar bermasturbasi di dalam warnet. 😰 Ketahuilah,
hasil MRI[1]
(Magnetic Resonance Imaging) otak anak yang terpapar pornografi sama parahnya dengan
pengemudi mobil dengan kecepatan sangat tinggi yang mengalami kecelakaan dan
cedera otak pada bagian atas alis kanan (Dr.
Donald Hilton Jr – 2010).
“Bagian otak yang dirusak adalah Prefrontal Cortex – bagian yang
membedakan manusia dengan binatang. Jika bagian ini rusak maka jadi binatang.
Sifat kerusakannya seperti kecanduan narkoba tetapi kerusakannya seperti gegar
otak,” Mbak Di menjelaskan kerusakan otak akibat pornografi.
- Berperilaku tidak wajar kepada masyarakat.
- Melanggar etika sosial.
- Memenangkan ego pribadi.
- Mengucapkan kata-kata yang tidak pantas.
- Tidak mampu memilih perilaku baik dan perilaku buruk.
- Tawuran pelajar.
Nah, sasaran tembak
pebisnis pornografi internasional ternyata bukan remaja tetapi anak lelaki yang
belum baligh. Kenapa anak lelaki yang belum baligh? Alasannya
karena:
- Anak laki-laki cenderung bekerja dengan otak kiri sehingga lebih fokus.
- Hormon seksnya lebih banyak daripada perempuan.
- Alat kelaminnya berada di luar sehingga lebih gampang distimulasi.
- Jauh lebih gampang membuatnya kecanduan ketimbang orang dewasa (kematangan fisik otak manusia pada usia 25 tahun). Jadi, sebelum matang fungsi otaknya sudah dirusak terlebih dulu dengan pornografi.
- Acceptable (dapat diterima)
- Affordable (terjangkau)
- Agresif
- Anonymous (tanpa nama)
Begitu mudah pornografi menghampiri anak kita melalui gadget. Para
pebisnis pornografi ini menargetkan anak-anak yang: smart, lonely (kesepian),
jiwanya hampa, sedang marah, depresi, dan kelelahan (misalnya dalam menjalani
rutinitas sehari-hari, pulang sekolah harus les ini les itu lagi).
“Jangan
tanyakan MAU JADI APA kepada anak tapi tanyakan MAU BUAT APA KAMU KE DEPANNYA. Berikan sikap yang baik pada anak
Anda. Hargai anak Anda,” ucap Mbak Di. Waspadai sikap-sikap menyepelekan anak,
melemahkan, membanding-bandingkan, dan lain-lain.
Sumber : www.mugniar.com
Cukupi Nutrisi Selama Hamil Cegah Anak Terlahir Pendek
By PPKS Bahtera - Juli 09, 2018
Selama kehamilan, Moms harus menjaga nutrisi makanan agar janin
berkembang dengan sehat. Ibu perlu tahu bahwa ada bahaya stunting
(kekurangan gizi kronis pada anak) yang bisa mengancam kesehatan
pertumbuhan anak yang sehat. Stunting bisa mengakibatkan anak terlahir
pendek.
Dilansir dari Liputan6.com, salah satu inovasi pangan
lokal, disampaikan oleh Deputi Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Tri Nuke Pudjiastuti,
berusaha mencegah stunting, dengan memanfaatkan teknologi pangan saat
mengolah makanan setempat.
"Sebenarnya kami belum melakukan
penelitian khusus soal stunting. Kami baru penelitian tentang inovasi
pangan lokal. Ternyata inovasi pangan secara tidak langsung mencegah
stunting," jelas Nuke di sela-sela acara Widyakarya Nasional Pangan dan
Gizi (WNPG) XI di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (3/7/2018).
Makanan
tersebut adalah sagu. Sumber pangan lokal dari Papua ini bisa
dikreasikan dalam bentuk makanan yang lebih menarik dengan penambahan
zat gizi mikro nutrien yang disebut fortifikasi pangan. Cara ini
diyakini efektif mencegah stunting. Contoh fortifikasi yakni penambahan
vitamin A pada minyak goreng.
Dengan kata lain, makanan yang
kurang gizi akan lebih bergizi sehingga bisa mencegah stunting pada
anak. Selalu pastikan gizi cukup selama hamil ya Moms agar kandungan
sehat dan anak tidak lahir pendek.
Penulis: Febi Anindyakirana
Sumber: Liputan6.com
![]() |
| Copyright thinkstockphotos.com |
Biasanya orang tua
memilih untuk membiarkan anak bermain dengan iPad atau smartphone demi membuat
anak tetap tenang dan tak banyak polah. Tapi tahukah Anda bahwa gadget
sebaiknya tak diberikan pada anak di bawah usia tiga tahun?
Dilansir dari news.asiantown.net, membiarkan
anak di bawah usia tiga tahun bermain sendiri dengan gadget bisa mengganggu
kemampuan mereka dalam mempelajari keterampilan penting seperti pengendalian
diri. Para peneliti di Boston University School of Medicine memaparkan
bahwa memberikan iPad atau smartphone kepada anak agar mereka bisa diam atau
teralihkan perhatiannya malah akan membuat kemampuan sosial emosional anak
tersebut terganggu.
Tim peneliti menuliskan bahwa gadget seperti iPad dan smartphone bisa mengambil alih aktivitas-aktivitas praktis yang sebenarnya sangat diperlukan dalam perkembangan kemampuan sensorimotor dan motor visual mereka. Padahal aktivitas-aktivitas praktis tersebut diperlukan dalam proses pembelajaran dan pengaplikasian matematika dan ilmu sains.
Nah, Bunda, yuk lebih bijak lagi dalam memberikan mainan kepada anak. Perhatikan tumbuh kembang mereka dengan baik dan jangan sembarangan memberikan gadget sebagai mainan untuk anak.
Balita yang Suka Main Gadget Bisa Ketergantungan
.
.
Para ahli menyarankan agar setiap orang tua senantiasa bijak dalam memberikan gadget pada anak khusunya balita. Satu kali anak ketergantungan pada gadget, akan sangat sulit bagi orang tua untuk mengatasi ketergantungan tersebut.
Dr Sigman mengatakan, "Gadget bisa menyebabkan ketergantungan dan kecanduan pada anak. Efeknya sama dengan orang dewasa yang ketergantungan alkohol atau pun obat terlarang. Ini sangat berbahaya buat mereka. Ini bisa berpengaruh buruk bagi kesehatan fisik, psikis dan kehidupan sosial serta medis anak."
Sumber : vemale.com
Dr Sigman mengatakan, "Gadget bisa menyebabkan ketergantungan dan kecanduan pada anak. Efeknya sama dengan orang dewasa yang ketergantungan alkohol atau pun obat terlarang. Ini sangat berbahaya buat mereka. Ini bisa berpengaruh buruk bagi kesehatan fisik, psikis dan kehidupan sosial serta medis anak."
Sumber : vemale.com
Jangan lalai memantau pertumbuhan balita Anda. Kalau Anda perhatikan
balita Anda ternyata lebih pendek dibandingkan teman-teman sebayanya,
Anda patut waspada. Bisa jadi, anak Balita Anda termasuk stunting.
Stunting
adalah kondisi di mana tinggi badan balita itu lebih pendek dari yang
seharusnya bisa dicapai pada umur tertentu. Jumlah balita pendek di
Tanah Air ternyata masih cukup tinggi. Kalau mengacu pada hasil Riset
Kesehatan Dasar tahun 2010, ada 35,6% balita yang mengalami stunting,
baik balita pendek maupun sangat pendek.
Kondisi stunting pada
balita seringkali tidak disadari. Baru setelah mencapai usia dua tahun,
orangtuanya menyadari bahwa balitanya pendek. Kondisi stunting ini tidak
bisa hanya dilihat dari penampilan fisik balita. Stunting dapat
diketahui bila seorang balita sudah ditimbang berat badannya dan diukur
panjang atau tinggi badannya. Hasilnya dibandingkan dengan standar
ukuran pertumbuhan tubuh manusia, atau antropometri. Dalam standar ini
tercantum kisaran ukuran panjang atau tinggi badan yang seharusnya
dicapai pada rentang usia balita (0-60 bulan atau 0-5 tahun), sehingga
dapat diketahui balita termasuk pendek, normal atau tinggi.
Sebagai
contoh, pada umur 12 bulan, balita dikatakan memiliki panjang badan
normal apabila berada dalam kisaran 71 cm sampai dengan 80.5 cm. Apabila
di bawah 71 cm termasuk pendek, sedang di atas 80.5 cm termasuk tinggi.
Balita pendek adalah masalah gizi kronis, yang disebabkan kurangnya
asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Bahkan, sejak anak masih dalam
kandungan. Hal ini sering terjadi lantaran ketidaktahuan orang tua atau
belum adanya kesadaran untuk memberikan makanan sesuai dengan kebutuhan
gizi anaknya.
Selain asupan gizi yang kurang, seringnya anak
sakit juga menjadi penyebab terjadinya gangguan pertumbuhan. Apabila
gangguan ini bersifat kronis, dampaknya juga menyebabkan anak menjadi
pendek. Risikonya makin besar ketika perilaku hidup bersih dan sehat
tidak diterapkan. Kalau sanitasi lingkungan yang menjadi tumbuh kembang
anak diabaikan, anak pun rawan terhadap penyakit infeksi. Namun,
stunting tidak melulu dipengaruhi asupan gizi dan sering tidaknya balita
sakit. Riwayat gizi sang ibu, baik sebelum hamil maupun di masa
kehamilan, juga sangat berkaitan dengan potensi balita stunting.
Berpengaruh pada kecerdasan
Lantas,
apa yang bakal terjadi kalau tren balita stunting ini kita biarkan?
Kita bakal sulit mendapatkan generasi penerus bertubuh tinggi dan
berotak cerdas. Memang, balita stunting tak cuma terkait tinggi pendek
tubuhnya tapi juga kecerdasan anak ke depan. Kekurangan asupan gizi
sejak masih dalam kandungan, terutama protein, menjadi salah satu
penyebabnya. Protein bukan saja dibutuhkan untuk pertumbuhan tinggi
badan, melainkan juga pertumbuhan otaknya.
Menurut Kepala
Subdirektorat Gizi Makro Kementerian Kesehatan Ir. Muhammad Nasir MKM,
90% pertumbuhan otak manusia terjadi sejak janin sampai sebelum anak
berusia lima tahun. Bahkan, 70% pertumbuhan otak itu terjadi di bawah
usia dua tahun. Proses pertumbuhan seperti ini tidak dijumpai di
periode-periode usia lainnya. Karenanya seringkali periode ini dijuluki
masa emas atau periode kritis.
“Periodenya dimulai dari pembuahan
(konsepsi) sampai 280 hari masa kehamilan, ditambah 720 hari atau
sampai dua tahun,” jelasnya. Artinya, bila terjadi gangguan pertumbuhan
pada masa-masa tersebut sehingga pertumbuhan otak tidak terjadi
sebagaimana mestinya, maka pertumbuhan tidak bisa dikejar pada periode
berikutnya, sekalipun kebutuhan gizinya dipenuhi dengan baik. Dan, anak
tetap akan mengalami gangguan pertumbuhan otak.
Waktu yang tepat atasi stunting
Stunting
memang berdampak serius, tapi bukan berarti tidak dapat dicegah.
Pencegahan stunting sejatinya dapat dilakukan sedini mungkin dengan
memperbaiki asupan gizi mulai dari remaja putri, wanita usia subur, ibu
hamil maupun pada balita. Artinya, sebelum hamil, kondisi si calon ibu
harus sudah “siap” hamil. Tentunya dengan asupan gizi yang cukup, berat
badan memadai dan tidak anemia.
Kejadian Balita pendek juga dapat
dicegah sejak janin dalam kandungan. Caranya dengan memenuhi asupan
gizi bagi ibu hamil, mulai dari pembuahan sampai dengan umur kehamilan
20 minggu. Di masa-masa tersebut, ibu hamil harus mendapatkan asupan
gizi mikro (mikronutrien) dan protein untuk membangun tinggi badan
potensial dan pertumbuhan otak anak. Asupan gizi mikro itu antara lain
berupa mineral seperti zat besi (tablet Fe) maupun vitamin-vitamin.
Jangan
lupa, sang ibu juga perlu diperhatikan asupan kalorinya. Ibu hamil
perlu 300-400 kalori ekstra setiap harinya, yang bisa diperoleh
makanan-makanan sumber karbohidrat, lemak nabati dan hewani, protein,
sayuran dan buah. Asupan ini penting untuk membangun berat badan
potensial bayi dan Balita.
Nah, setelah lahir, bayi baru lahir
cukup hanya mendapat ASI saja (ASI eksklusif) sampai dengan umur 6
bulan. Umur 6 bulan sampai 2 tahun, barulah makanan pendamping ASI
(MP-ASI) bisa diberikan. Pemberian ASI tetap terus diberikan sampai usia
2 tahun.
“Masa paling tepat untuk memperbaiki kondisi Balita
pendek memang sampai Balita berusia 2 tahun. Setelah usia itu bisa saja
intervensi dilakukan, tapi hasilnya tidak bisa mengejar capaian
pertumbuhan tinggi yang optimal,” tutur Nasir menjelaskan. Lebih lanjut
Nasir menuturkan bahwa masalah stunting ini erat hubungannya dengan
faktor pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap gizi.
Menurutnya, masyarakat sudah cukup tahu apa dan bagaimana dampak dari
gizi buruk.
Tapi, kalau bicara tentang gizi berimbang dan manfaat
makanan seperti lauk hewani, lauk nabati, sayuran, buah, dan juga ASI
eksklusif, pengetahuan masyarakat masih rendah. Untuk itu, Kementerian
Kesehatan tahun ini mulai menggelar Gerakan Nasional Sadar Gizi.
Tujuannya untuk menumbuhkan pengetahuan, sikap dan perilaku yang lebih
merefleksikan kesadaran gizi yang baik. Menurut Nasir, sekedar tahu gizi
saja tidak cukup. Tapi juga harus diikuti dengan perubahan perilaku,
antara lain pola konsumsi makanan yang baik.
Sumber : Vemale.com
Konsultasi dan Konseling Keluarga Balita dan Anak
By PPKS Bahtera - Januari 01, 2014
A.
Latar
Belakang
Pembangunan Sumber
Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu upaya besar untuk mencapai cita-cita
luhur mensejahterakan bangsa seperti yang diamanatkan oleh Undang Undang Dasar
1945. Upaya proses pembangunan SDM merupakan proses jangka panjang yang harus
dimulai sejak dini dari masa dalam kandungan, masa dibawah usia lima tahun
(balita) sampai anak masuk sekolah yang sangat memerlukan perhatian dalam
pengasuhan yang benar. Dalam seluruh siklus kehidupan manusia, masa lima tahun
pertama kehidupan manusia merupakan periode yang paling kritis dalam menentukan
kualitas SDM sebab proses tumbuh kembang berjalan sangat cepat.
Masa lima tahun
pertama dalam kehidupan manusia itu disebut sebagai masa usia emas (golden age period). Pada masa tersebut
perlu dilakukan pengasuhan dengan benar,
maka anak akan berkembang dengan baik secara emosi, sosial, mental, intelektual
dan moral yang akan menentukan sikap serta nilai pola perilakunya dikemudian
hari. Oleh sebab itu, diperlukan pengasuhan yang meliputi pemenuhan kebutuhan
kesehatan, gizi, kasih sayang serta stimulasi yang baik agar anak dapat
berkembang secara optimal serta sesuai dengan usia dan tahap perkembangan yang
harus dimiliki. Kegagalan yang terjadi pada periode pengasuhan di usia dini
akan mengakibatkan kegagalan pada tahap perkembangan selanjutnya.
Pengasuhan merupakan
proses hubungan yang unik antara orangtua dan anak sebagai aksi dan interaksi
dalam mendidik agar anak dapat berkembang dengan baik sehingga menjadi orang
dewasa yang bertanggung jawab, tangguh, mandiri, berkualitas dan mampu
menghadapi tantangan dalam kehidupannya kelak. Pengasuhan anak merupakan proses
yang berkesinambungan dan memerlukan peran serta keluarga secara menyeluruh. Keluarga
sebagai pendidik pertama dan utama mempunyai peranan sangat penting dalam
pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak termasuk di dalamnya pemenuhan
hak-hak anak.
Mencermati kondisi
tersebut, Undang-undang nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan
dan Pembangunan Keluarga melalui pasal 48 menjelaskan bahwa Pembinaan
Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga
dapat terwujud salah satunya bila
dilaksanakan melalui peningkatan
kualitas anak, maka perlu diberikan pelayanan konseling bagi keluarga untuk
mendukung upaya perawatan dan pengasuhan tumbuh kembang anak. Perlunya
diberikan pembekalan bagi keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama yang
dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif bagi anak melalui kegiatan
konseling keluarga balita dan anak.
B.
Tujuan
Memberikan
kemudahan bagi petugas konseling didalam memberikan informasi dan konseling
kepada keluarga agar keluarga dapat memberikan perawatan dan pengasuhan yang
tepat bagi balita dan anak.
C.
Batasan
Pengertian
- Keluarga balita dan anak adalah keluarga yang memiliki balita dan anak usia 0-10 tahun.
- Perawatan adalah proses, cara/ tindakan pemeliharan pertumbuhan fisik dengan cara memberikan asupan gizi seimbang dan pencegahan terhadap penyakit.
- Pengasuhan adalah proses mendidik, agar kepribadian anak dapat berkembang dengan baik sehingga menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab, tangguh, dan tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang buruk serta mampu menghadapi tantangan dalam kehidupannya kelak.
- Pola asuh adalah pola perilaku yang diterapkan orangtua pada anak dan bersifat konsisten (tetap) dari waktu ke waktu.







